Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi (STI) Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, menggelar Seminar Nasional bertajuk “Penerapan Internet of Thinks (IoT) dan Artificial Intellegence (AI) dalam bidang bisnis”, Sabtu (24/6).
Event yang berlangsung secara daring itu, menghadirkan tiga narasumber. Diantaranya, Prof. Dr. Indrabayu, S.T., M.T., M.Bus., Sys (Ketua Departemen Informatika Universitas Hasanuddin), Dr. Eng. Ir. Puput Dani Prasetyo Adi., S.Kom., M.T. (Peneliti Pusat Riset Telekomunikasi BRIN), Andi Ircham Hidayat, S.Kom, M.Kom., (Dosen Nobel Indonesia), serta ratusan Mahasiswa. Dosen Nobel Indonesia, Andi Ircham Hidayat berujar bahwa IoT sudah menjadi salah satu teknologi yang marak digunakan oleh banyak orang dan perusahaan.
Baik penerapan dalam kehidupan sehari hari maupun keperluan bisnis. “Sederhananya IoT dapat dipahami sebagai konsep segala rupa perangkat yang terkoneksi dengan internet terhubung satu dengan yang lain,” terangnya. Dalam sektor kesehatan, IoT dapat membantu melakukan monitoring tekanan darah, alat pacu jantung. Dalam sektor militer, IoT dapat ditaruh dalam teknologi seperti drone untuk pengawasan teritorial wilayah Indonesia. “Jika sebelumnya banyak industri yang melaksanakan aktivitas secara manual, diharapkan dengan hadirnya IoT maka banyak sektor bisnis di Indonesia siap untuk masuk dalam revolusi industri 4.0.
Terlebih dengan kustomisasi IoT, maka permasalahan logistik, industri keuangan, manufaktur, dan lainnya dapat diselesaikan,” pungkasnya, Sementara itu, Prof. Dr. Indrabayu, S.T., M.T., M.Bus., Sys, mengatakan bahwa teknologi itu tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang heboh dan mengancam mengganti peran manusia. Sebaliknya, ia menganggap teknologi didesain untuk membantu dan mendukung manusia. “Kita kerap mengikuti teknologi bangsa lain seperti cina, amerika, bangsa kita kan ini unik, dan kita punya teknologi untuk memecahkan persoalan kita sendiri.
Disatu sisi, ketakutan itu wajar, tak kenal maka jadi apatis, mudah-mudahan dengan webinar ini semua peserta ini sadar bahwa AI ini bukan untuk mengganti, tapi didesain untuk mendukung,” tegasnya. “Memang di industri 4.0 itu salah satu kuncinya adalah mengganti tenaga pekerja yg menggunakan otot sekarang lebih banyak pake otak. “Makanya saya sampaikan ke beberapa instansi pemerintahan seperti dinas pendidikan itu, dinas pendidikan itu harus bergerak lebih awal sebelum teknologi itu masuk, harus memaksimalkan kapasitasnya,” tandasnya.