NIDC -- Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, Dr. Ir. H. Badaruddin, S.T., M.M., IPU, ASEAN Eng. membuka agenda workshop Publikasi Internasional Bereputasi pada Kamis (30/4). Agenda yang dilaksanakan Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Nobel Indonesia ini diikuti puluhan dosen internal dengan tujuan meningkatkan kapasitas dan mutu akademik.
"Ini adalah sebuah kegiatan yang luar biasa dalam rangka meningkatkan kapasitas kita sebagai dosen," ujarnya.
Dalam arahannya, Badaruddin menyoroti tantangan besar yang dihadapi perguruan tinggi saat ini. Ia merefleksikan sebuah opini dari Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) di harian Kompas, yang menceritakan kebijakan Harvard University dalam membatasi predikat kelulusan cumlaude demi menjaga marwah dan kualitas alumni di masyarakat.
Lebih lanjut, ia mengaitkannya dengan hasil Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Bandung yang sempat diikutinya. Saat ini, perguruan tinggi sering kali diperhadapkan pada tuntutan untuk menjadi mesin pencetak tenaga kerja ketimbang menjadi pabrik intelektual. Hal ini dipicu karena indikator keberhasilan kampus kerap diukur dari seberapa besar daya serap alumninya di dunia industri.
Pemerintah melalui Ditjen Dikti pun menyadari adanya jarak (gap) yang cukup lebar antara materi di dalam kelas dengan realitas di industri. Sebagai solusinya, pemerintah kini gencar menggaungkan pergeseran paradigma dari universitas pengajar (teaching university) menjadi universitas riset (research university).
"Pemerintah melihat bahwa satu-satunya yang bisa mendekatkan perguruan tinggi dengan industri adalah riset. Oleh karena itu, ini adalah kondisi yang mau tidak mau harus kita hadapi. Kita sebagai dosen harus mulai berpikir untuk menggeser kebiasaan kita, dari yang tadinya fokus mengajar menjadi meneliti," tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa konsep ini sejalan dengan penerapan Outcome-Based Education (OBE) yang sesungguhnya. Menurutnya, jika mahasiswa hanya menghabiskan waktu di dalam kelas tanpa model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), maka aspek yang terasah hanyalah pengetahuan (knowledge) teoritis semata.
Olehnya, Badar mendorong para dosen untuk melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proyek penelitian. Hal ini dinilai akan membuka ruang yang luas bagi mahasiswa untuk melihat realitas di lapangan dan mempelajari ilmu-ilmu baru. "Kalau kita tidak bisa menggeser posisi kita yang hanya sebagai pengajar di kelas, maka jarak antara kita dengan industri akan semakin jauh. Saya yakin, jika kita berbicara dan menerapkan banyak konsep meneliti, maka kedekatan institusi kita dengan dunia industri akan semakin erat," tukasnya.