NIDC -- Kesenjangan antara ekspektasi lulusan perguruan tinggi dan realitas di dunia kerja menjadi tantangan tersendiri bagi para pencari kerja baru.
Menjawab fenomena tersebut, Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia mengadakan workshop pelatihan teknik wawancara dan pembuatan CV profesional digelar dengan menekankan pentingnya kesiapan mental dan keterampilan sebelum memasuki industri.
Wakil Direktur LPK Lunarica, Seftian Hidayat, S.E., M.M., CP. EMS, selaku narasumber utama mengingatkan Mahasiswa agar bersiap menghadapi kenyataan dunia kerja yang sering kali tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan semasa kuliah. Menurutnya, kunci utama untuk memenangkan persaingan adalah fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan oleh diri sendiri. "Setelah Anda lulus, Anda pasti punya ekspektasi terhadap dunia kerja. Namun, sering kali realisasinya tidak sesuai dengan kenyataan yang dibayangkan. Perlu diingat, rumus kesuksesan itu cuma dua, yaitu bertemunya persiapan dan kesempatan," ungkap Seftian, Jumat (29/5) di Ballroom Nobel Convention Center, Jl. Sultan Alauddin.
Ia menegaskan bahwa momentum datangnya kesempatan kerja merupakan variabel yang tidak bisa diprediksi oleh siapa pun. Oleh karena itu, investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang calon tenaga kerja adalah mematangkan persiapan diri sedini mungkin. "Sebelum datang momentum kesempatan, persiapkan diri Anda sebaik mungkin. Ini yang membuat saya sukses. Sebelum mulai bekerja, saya sudah memiliki skill yang dibutuhkan di dunia kerja. Ketika kesempatan itu datang, saya sudah siap. Yang bisa kita kendalikan apa? Persiapan. Kesempatan tidak ada yang tahu," tegasnya.
Sebagai bagian dari persiapan nyata tersebut, Seftian juga membedah strategi menembus seleksi berkas berdasarkan lima skala perusahaan yang ada di dunia kerja, mulai dari UMKM hingga korporasi besar.
Ia menyarankan para pelamar kerja untuk memiliki dua versi Curriculum Vitae (CV) yang disesuaikan dengan target perusahaan agar peluang lolos semakin besar. "Untuk perusahaan skala UMKM, mikro, kecil, hingga menengah dengan omzet Rp5 juta sampai Rp2 miliar, penggunaan CV klasik masih sangat efektif karena proses seleksinya masih dilakukan manual oleh manusia yang menilai aspek visual dan foto. Namun, untuk korporasi besar yang menerima ribuan lamaran, wajib menggunakan CV ATS-friendly tanpa banyak warna agar bisa terbaca oleh mesin penyeleksi," jelas Seftian.
Melalui pendekatan motivasi dan taktik praktis ini, workshop diharapkan mampu mengubah pola pikir para peserta agar tidak sekadar menunggu peluang, melainkan aktif membangun kapasitas diri guna menjemput karier impian mereka.