join_now_merah

Fakultas Pascasarjana Nobel Indonesia Gelar International Guest Lecturer, Hadirkan Profesor Chalong


10 July 2026 Nobel Indonesia Digital Creative

Fakultas Pascasarjana Nobel Indonesia Gelar International Guest Lecturer, Hadirkan Profesor Chalong
NIDC -- Lanskap kompetisi global saat ini telah mengalami pergeseran besar. Organisasi tidak lagi sekadar bersaing lewat produk, layanan, atau informasi yang mereka miliki. 
Saat ini, persaingan justru terletak pada kemampuan organisasi dalam membuat, menggunakan, dan terus belajar dari inteligensia. Fenomena inilah yang disebut sebagai "transformasi inteligensia".

Hal tersebut diungkapkan oleh Chalong Tubsree, Associate Professor di bidang Education Technology dari Pathum Thani University, Thailand saat memaparkan materi dalam International Guest Lecturer, Fakultas Pascasarjana, Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, Jumat (10/7). 

Pada sesi yang berlangsung secara daring. Dr. Chalong menekankan bahwa fokus utama adopsi kecerdasan buatan (AI) saat ini bukan lagi sekadar soal kecanggihan teknisnya, melainkan bagaimana dampaknya terhadap strategi dan kepemimpinan organisasi. "Transformasi inteligensia adalah integrasi strategis antara AI, kecerdasan manusia, pengetahuan organisasi, serta proses belajar yang terus-menerus. Tujuannya jelas, untuk membentuk organisasi yang adaptif, inovatif, dan tangguh di era baru ini," ujarnya. 

Kehadiran AI dinilai telah mengubah total aturan main dalam manajemen strategis, mulai dari menentukan tempat bersaing, cara bersaing, hingga cara menciptakan nilai bisnis. Hebatnya, semua analisis strategis ini sekarang bisa diselesaikan dalam hitungan detik, bukan lagi berbulan-bulan. Menurutnya, selain mengandalkan modal, skala bisnis, dan teknologi tradisional, AI menawarkan empat sumber keunggulan baru bagi organisasi, yaitu Data, Algoritma, Kemampuan belajar (learning capability), dan Ekosistem.

Dalam pemaparannya, Dr. Chalong Tubsree juga meluruskan kekhawatiran banyak pihak mengenai eksistensi manusia di tengah masifnya teknologi. Menurutnya, sudut pandang para pemimpin harus diubah. "Pertanyaan utamanya kini bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia. Pertanyaan strategis yang sebenarnya adalah bagaimana para pemimpin bisa menciptakan kolaborasi yang efektif antara manusia dan AI," tegasnya.

Diakhir pemamparan, ia menyimpulkan bahwa organisasi masa depan yang sukses adalah organisasi yang mampu memenuhi karakteristik penting.  Kata dia, adaptif, Berbasis data, Inovatif, Berkelanjutan, dan yang paling utama adalah Berpusat pada manusia (human-centered), di mana teknologi hadir sepenuhnya untuk melayani manusia, bukan sebaliknya.


Berita Lainnya