sumber : (ist)
NIDC -- Potensi nipah yang tumbuh di kawasan Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, mulai diarahkan menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026, tim dosen Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia bersama Universitas Muslim Maros (UMMA) mendorong pengolahan nira nipah menjadi Gula Semut Nipah.
Program tersebut dilaksanakan di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, dengan melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Nipah Manis Salenrang sebagai mitra.
Alih-alih hanya memanfaatkan nipah sebagai sumber bahan baku tradisional, tim pengabdian melihat peluang untuk meningkatkan nilai ekonominya melalui pengolahan, standardisasi produksi, pengemasan, hingga pemasaran.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Rustan DM, S.E., M.Si., Ak., CA., CPA., mengatakan program tersebut dirancang untuk mengubah cara masyarakat melihat potensi nipah, dari sekadar sumber daya alam menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kami ingin masyarakat tidak berhenti pada tahap menghasilkan produk, tetapi mampu melihat nipah sebagai potensi usaha yang bisa dikembangkan dari hulu hingga hilir. Karena itu, teknologi produksi harus berjalan bersama dengan kemampuan mengelola usaha dan memasarkan produk,” kata Rustan, Selasa (19/8).
Potensi tersebut cukup besar. Desa Salenrang yang berada di kawasan Rammang-Rammang memiliki vegetasi nipah yang tumbuh di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Pute. Tanaman nipah diketahui dapat menghasilkan nira sekitar 3.000–4.000 liter per hektare per tahun dengan kandungan sukrosa sekitar 13–17 persen.
Namun, potensi tersebut menghadapi persoalan dalam proses pemanfaatannya. Nira nipah relatif mudah mengalami fermentasi apabila tidak segera ditangani. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan nira menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.
Melalui program ini, tim mendorong masyarakat untuk mengolah nira menjadi Gula Semut Nipah sehingga memiliki masa pemanfaatan dan nilai jual yang lebih baik sekaligus diarahkan pada produk pangan yang lebih terstandar dan mendukung pemenuhan aspek halal.
Transformasi tidak hanya dilakukan pada produk akhir, tetapi dimulai sejak proses pengolahan bahan baku.
Tim memperkenalkan sejumlah teknologi tepat guna untuk membantu KTH Nipah Manis Salenrang beralih dari pengolahan tradisional menuju proses semi-mekanis yang lebih higienis, efisien, dan terukur.
Teknologi yang diterapkan antara lain Mesin Kristalisator Gula Semut Otomatis atau Automatic Stirrer, Modified Rocket Stove, hand refractometer, pH meter digital, serta Continuous Band Sealer.
Mesin kristalisator digunakan untuk membantu proses pengadukan ketika nira memasuki tahap pembentukan kristal gula. Mesin tersebut menggunakan wajan stainless steel 304 food grade, motor listrik, dan gearbox dengan kapasitas sekitar 20–30 liter nira kental dalam satu siklus.
Sementara itu, Modified Rocket Stove digunakan untuk meningkatkan efisiensi proses pemasakan sekaligus mengurangi paparan asap di sekitar produk.
Penggunaan refractometer dan pH meter juga menjadi bagian dari upaya standardisasi. Masyarakat dapat mengetahui kadar gula dan tingkat keasaman nira sebelum masuk ke proses produksi.
Adapun Continuous Band Sealer digunakan untuk membantu menghasilkan kemasan yang lebih rapat dan rapi sehingga produk memiliki tampilan yang lebih representatif ketika dipasarkan.
> “Teknologi yang kami bawa bukan sekadar menggantikan tenaga manusia dengan mesin. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut bisa membuat proses produksi lebih konsisten, higienis, dan mudah diterapkan oleh masyarakat,” ungkapnya.
Pengembangan Gula Semut Nipah juga menyentuh aspek bisnis. Tim memberikan pelatihan mengenai perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pembukuan sederhana, penetapan harga jual, hingga penguatan kelembagaan usaha.
Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), dengan menempatkan KTH Nipah Manis Salenrang sebagai pelaku utama.
Masyarakat tidak hanya menerima teknologi, tetapi dilibatkan sejak proses identifikasi persoalan, penerapan teknologi, pelatihan, hingga evaluasi program.
Menurut tim, pendekatan tersebut penting agar program tidak berhenti ketika kegiatan pengabdian selesai.
“Ukuran keberhasilan program bukan hanya apakah mesin sudah digunakan atau produk sudah dihasilkan. Kami ingin melihat apakah masyarakat mampu melanjutkan proses produksi, menghitung biaya usahanya, menentukan harga, dan menemukan pasar secara mandiri,” lanjutnya.
Potensi Gula Semut Nipah semakin menarik karena Desa Salenrang berada di kawasan Rammang-Rammang yang dikenal sebagai salah satu kawasan wisata berbasis lanskap karst di Maros.
Kondisi tersebut membuka peluang agar produk tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas pangan, tetapi juga dikembangkan sebagai produk khas yang membawa cerita mengenai masyarakat, nipah, dan lingkungan Rammang-Rammang.
Untuk mendukung pemasaran, tim mendorong pemanfaatan sejumlah kanal digital seperti Google Business Profile, marketplace, media sosial, dan WhatsApp Business.
Akses pasar juga diarahkan melalui jejaring dengan toko suvenir, kafe, hotel, serta calon pembeli lainnya.
Sementara, Dr. Didiek Handayani Gusti, S.E., M.Si., yang menjadi anggota tim dari ITB Nobel Indonesia, menilai pengembangan produk lokal perlu dibarengi dengan strategi pemasaran yang sesuai dengan perilaku konsumen saat ini.
“Produk lokal akan sulit berkembang jika hanya mengandalkan kualitas produk. Kemasan, identitas merek, cerita produk, dan cara memasarkannya juga harus diperhatikan agar Gula Semut Nipah memiliki daya saing di pasar,” katanya.
Sementara itu, keterlibatan Dr. Andi Herwati, S.P., M.Si. dari Universitas Muslim Maros memperkuat aspek agroteknologi dan ekonomi pertanian dalam program tersebut.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi itu memadukan kepakaran dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan bisnis, pemasaran dan transformasi digital, serta agroteknologi dan ekonomi pertanian.
Program tersebut tidak berhenti pada target terbentuknya produk Gula Semut Nipah. Tim juga menetapkan target peningkatan kemampuan produksi dan manajemen, perluasan jangkauan pasar, serta peningkatan pendapatan mitra minimal 50 persen dibandingkan kondisi awal.
Capaian tersebut akan diukur melalui evaluasi dengan membandingkan kondisi mitra sebelum dan sesudah program.
Dengan demikian, keberhasilan program diharapkan dapat dilihat secara lebih konkret, terutama dari perubahan kemampuan produksi, pengelolaan usaha, akses pasar, dan pendapatan masyarakat.
“Kami ingin program ini meninggalkan kemampuan, bukan hanya meninggalkan peralatan. Kalau masyarakat sudah mampu memproduksi, mengelola usaha, dan memasarkan produknya secara mandiri, di situlah keberlanjutan program bisa benar-benar terlihat,” tuturnya.
Pada akhirnya, pengolahan nira menjadi Gula Semut Nipah menjadi bagian dari upaya membangun model bioekonomi pesisir yang menghubungkan sumber daya lokal, teknologi, kewirausahaan, dan keberlanjutan lingkungan.
Kolaborasi ITB Nobel Indonesia, Universitas Muslim Maros, KTH Nipah Manis Salenrang, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat menjadikan potensi nipah sebagai sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat identitas produk lokal Rammang-Rammang.
Dari nira yang sebelumnya mudah rusak, masyarakat kini didorong untuk menghasilkan produk yang lebih terstandar, memiliki nilai tambah, dan berpeluang masuk ke pasar yang lebih luas.