join_now_merah

NEC Pelajari Inkubator Bisnis di Pemkot Makassar dan Unhas


28 September 2026 Nobel Indonesia Digital Creative

NEC Pelajari Inkubator Bisnis di Pemkot Makassar dan Unhas
NIDC — Nobel Entrepreneurship Center (NEC) melakukan kunjungan strategis ke dua instansi di Kota Makassar, yakni Dinas Koperasi dan UMKM Kota Makassar serta Inkubator Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas). 

Kunjungan yang berlangsung dalam dua pekan terakhir tersebut dilakukan untuk mempelajari pola pembinaan dan tata kelola inkubator bisnis, sekaligus membuka peluang kolaborasi program kewirausahaan mahasiswa.

Kepala Lembaga NEC, Irfan Marhaban, S.H., M.Kn., menyampaikan bahwa kedatangan delegasi kampus bertujuan untuk memahami metode pendampingan UMKM yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Makassar dan Unhas. Ia berharap dari pertemuan ini lahir kerja sama konkret yang melibatkan mahasiswa.

"Tujuan kami kesini untuk bagaimana pembinaan untuk metode yang digunakan oleh pemerintah Kota Makassar dan Unhas untuk membina UMKM-UMKM-nya. Semoga kedatangan ini diharapkan ada yang bisa kita kolaborasikan misal dari kegiatan-kegiatan mahasiswa yang terkait dengan kewirausahaan dengan inkubator Kota Makassar. Ya sedikit banyaknya mungkin, itu yang menjadi pick point daripada kunjungan kami ini," ujar Irfan. 

Langkah kolaboratif ini disambut hangat oleh Manager Inkubator Bisnis Kota Makassar, Khairul Umam. Ia menekankan pentingnya menjaga relevansi inkubator agar terus menyesuaikan diri dengan dinamika pengembangan usaha terkini, sekaligus membuka ruang diskusi dan pemanfaatan sumber daya bersama (open resource).

"Terima kasih banyak teman-teman dari Nobel, ini kita senang sekali menerima kita disini sama-sama belajar artinya kami juga tentu mau dengar juga insight dari kita. Apa program-program yang sedang kita jalankan, jadi nanti kita sama-sama diskusi saja saling bertukar program, kegiatan-kegiatan apa dan kita juga nanti saling open resource lah ya untuk kegiatan-kegiatan kita ke depannya," ungkap Khairul Umam.

Perjalanan inkubator bisnis di Kota Makassar, Khairul Umam mengungkapkan bahwa saat ini sudah terdapat tiga inkubator yang beroperasi.

Pada awal perancangan di tahun 2022, inkubator ini sempat direncanakan berfokus pada teknologi (IT incubator). Namun, setelah memetakan potensi daerah, kekuatan utama Kota Makassar justru berada pada bisnis konvensional.

"Kalau di kami sendiri, inkubator bisnis Kota Makassar itu sebenarnya sudah ada tiga, tiga kita punya inkubator. Jadi awalnya itu di tahun 2022, itu kita diminta untuk mendesain, mendesain bagaimana caranya pengembangan usaha yang ada di Kota Makassar itu bisa cocok dengan profil kota. Jadi awalnya ini mau dibangun fokus ke IT atau teknologi inkubator. Tapi pada saat dilihat, ternyata strength-nya kita itu malah di conventional bisnisnya. Kita punya makanan yang enak, kita punya sutra, kita punya wastra yang bagus dan sebagainya," tutur Khairul.

Ia menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan akhirnya disesuaikan agar lebih mudah dipahami oleh para pelaku UMKM lokal dibanding menggunakan istilah-istilah teknologi yang rumit.

"Dan kalau misalkan kita sandingkan antara profil, kalau misalkan kita fokus ke IT dengan kita buat dia segeneral mungkin, inkubatornya ternyata beda sekali modelnya. Kalau misalkan di teknologi kita akan menggunakan istilah-istilah yang sangat sophisticated, complicated gitu kan. Tapi kalau misalkan kita arahkan dia ke conventional bisnis maka akan ditarik ke topik-topik yang lebih sederhana, bahasa-bahasa yang lebih sederhana. Makanya profil kota itu harus dipelajari dulu sebelum kita mengembangkan inkubatornya seperti apa, itu yang paling pertama. Maka akhirnya bertelurlah, hadirlah yang namanya inkubator UMKM waktu itu di tahun 2022," lanjutnya.

Sistem pembinaan UMKM di Kota Makassar sendiri mengadaptasi pengalaman program digital dengan penyesuaian untuk skala UMKM, yang terbagi dalam tahapan pre-inkubasi, inkubasi, hingga akselerasi. Pada tahap pre-inkubasi, fokus utama diberikan pada tiga topik penting, yakni perubahan mindset wirausaha, digitalisasi pemasaran, serta legalitas usaha seperti NIB, izin PIRT, dan sertifikasi halal.

"Nah itu kami desain dari beberapa program, kebetulan saya pernah di seribu startup, saya kebetulan pernah di Indigo, di Telkom. Jadi itu yang kami sesuaikan, jadi ada tahapan preinkubasi, inkubasi akselerasi, cuma itu kan teknologi. Maka kita harus sesuaikan dia punya topik ke UMKM. Makanya layanan-layanan yang sekarang kita sediakan itu betul-betul menyasar UMKM. Nah, waktu itu di tahun 2022 memang fokusnya UMKM saja. Nah, disitu kita di preinkubasi itu kita bantu UMKM untuk 3 topik," jelas Khairul.

Ia memaparkan bahwa tahap pre-inkubasi diselenggarakan berupa seminar atau kelas-kelas kecil yang bertujuan meningkatkan pemahaman sekaligus melakukan pendataan. Hingga kini, terdata sekitar 4.000 hingga 5.000 UMKM di Kota Makassar.

"Topiknya itu dia berkutat di 3 hal. Pertama, mindset wira usaha, mengubah mindset pedagang menjadi wira usaha. Kemudian yang kedua, harus digital. Hari ini mau kita jualan Gogos kah, mau kita jualan Songkolo Bagadang kah, harus di digital. Entah itu pake sosmed kah, entah itu pake Google kah, dan sebagainya. Jadi itu mindset itu kita tarik kesini. Kemudian yang ketiga, harus legal. Legal itu artinya harus punya NIB, harus punya syarat-syarat yang disyaratkan oleh negara," tambahnya.

Setelah melalui pre-inkubasi, para pelaku UMKM akan dikurasi dan dikelompokkan sesuai jenis usahanya untuk masuk ke tahapan inkubasi teknis. Pada tahap ini, pembinaan mencakup manajemen keuangan, kualitas produk, hingga SDM. Selain itu, pemerintah kota juga memberikan dukungan riil berupa bahan dan permesinan pembuatan kemasan dari alokasi APBD.

"Di tahapan inkubasi baru kita bahas hal teknis. Hal teknis itu misalkan kita terkait bagaimana itu kualitas produk, bagaimana itu manajemen keuangan, SDM. Pokoknya hal-hal teknis yang kita bahas di inkubasi. Jadi kita pilih UMKM-nya, kita kelompokkan dengan sesamanya mereka. Nanti setelah itu dikembangkan, dia punya usaha, dia ikut pelatihan, dia ikut konsultasi. Nah nanti kita support mereka untuk pengembangan lanjutan. Misalkan dia butuh kemasan, itu kita support. Kita sediakan mereka. Nah itu kita support dengan APBD, adanya bahan dan juga permesinan yang kita bisa pakai untuk membuatkan kemasan untuk mereka," tutup Khairul Umam.


Berita Lainnya