PINRANG, NIDC -- Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Lerang, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang didorong memanfaatkan keunikan lokal sebagai strategi branding hemat biaya untuk menembus pasar digital.
Edukasi tersebut disampaikan dalam seminar kewirausahaan dan pendampingan UMKM yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia Posko 13 di Desa Lerang.
Guru Besar ITB Nobel Indonesia yang juga Dekan Fakultas Pascasarjana (FPS), Prof. Dr. Ahmad Firman, S.E.,M.Si., menegaskan bahwa branding bukan sekadar persoalan estetika visual seperti logo atau kemasan mahal, melainkan proses panjang membangun identitas dan persepsi agar produk dipercaya konsumen.
Menurutnya, keunggulan utama pelaku usaha di tingkat desa terletak pada identitas geografis dan kearifan lokal yang tidak dimiliki produk pabrikan skala besar.
"UMKM desa memiliki modal sosial dan budaya yang kuat, seperti bahan baku khas, tradisi, hingga cerita unik di balik pembuatannya. Keunikan lokal inilah yang harus dikemas menjadi identitas produk, sehingga konsumen tidak sekadar membeli barang, tetapi juga membeli nilai dan cerita di dalamnya," ujarnya, Kamis (27/8).
Ia menekankan agar para pelaku usaha tidak berkecil hati dengan keterbatasan anggaran. "Jangan menunggu usaha menjadi besar baru memikirkan branding. Justru sejak masih skala kecil, identitas itu harus dibangun secara bertahap. Mulai dari nama produk yang mudah diingat, perbaikan kemasan sederhana, hingga konsistensi menonjolkan keunggulan produk dalam setiap promosi," tambahnya.
Pada sesi kedua, Wakil Dekan I FPS Nobel Indonesia, Dr. Fitriani Latief, S.P., M.M., memaparkan pentingnya memangkas jarak antara produk desa dan konsumen perkotaan melalui pemanfaatan teknologi. Menurutnya, pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kian bergantung pada platform digital harus direspon cepat oleh pelaku UMKM agar tidak tertinggal dalam peta persaingan pasar.
"Media sosial dan platform digital adalah game changer bagi usaha skala kecil. Pemasaran digital membuka akses pasar yang mulanya terbatas di tingkat lokal menjadi tanpa batas, bahkan tanpa perlu mengalokasikan anggaran promosi yang besar. Kuncinya ada pada tiga hal: konsistensi mengunggah konten, kreativitas visual, dan keberanian membangun interaksi dua arah dengan calon pembeli," jelas Dr. Fitriani.
Ia menambahkan, penguasaan materi dasar seperti pencahayaan saat mengambil foto produk, penyusunan deskripsi barang yang informatif, hingga ketepatan memilih media sosial menjadi fondasi penting bagi UMKM Desa Lerang untuk memperluas jangkauan distribusi.
Kepala Desa Lerang, Ikhsan, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai kombinasi antara penguatan identitas produk dan pemasaran digital sangat relevan untuk mendongkrak daya saing ekonomi warganya. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Implementation Agreement (IA) antara Program Studi Manajemen Pascasarjana ITB Nobel Indonesia dan Pemerintah Desa Lerang sebagai komitmen pendampingan berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKN Posko 13 menerjunkan tim untuk mendampingi langsung para pelaku usaha di lapangan, mulai dari penyusunan materi promosi digital hingga tata kelola akun media sosial usaha mereka.