Penerapan Ilmu Akuntansi Harus Beriringan dengan Perkembangan Teknologi

MAKASSAR, NIDC—Kemajuan teknologi membuat hampir seluruh lini sektor berbenah dan berinovasi. Salah satunya penerapan ilmu akuntansi di era digital.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel Indonesia menilai penerapan ilmu akuntansi dan perkembangan Teknologi Informasi (TI) harus jalan beriringan. Hal itu pun jadi pembahasan pada kuliah praktisi yang digelar STIE Nobel Indonesia, Jumat, (18/6/2021). Tema yang diangkat yakni potensi dan tantangan akuntansi di era digital. 

Kuliah praktisi ini digelar secara offline dengan tetap menerapkan protokol kesehatan di Gedung kampus STIE Nobel Indonesia, yang diikuti kurang lebih 30 orang mahasiswa dari jurusan akuntansi.

Kuliah Praktisi kali ini menghadirkan praktisi akuntansi Muhammad Nur Fitra, S.E., M.AK., co-founder D’MALEWA consultant, yang juga merupakan salah satu alumni Jurusan Akuntansi STIE Nobel Indonesia.

Dalam pemaparan materinya, Fitra demikian ia akrab disapa mengatakan bahwa, kemajuan TI berpengaruh signifikan terhadap perkembangan akuntansi.

“Seperti misalnya ketika akuntan hendak mencatat laporan dalam buku, maka sekarang tidak perlu lagi menyiapkan buku-buku hingga menumpuk. Karena semua itu bisa dikelola secara otomatis menggunakan software accounting, yang tentu lebih efektif dan efisien, “jelasnya.

Semakin maju TI semakin banyak pengaruhnya terhadap bidang akuntansi karena akan semakin banyak software akuntansi yang bisa diciptakan. Dan tentu ini merupakan suatu peluang.

Namun, jelasnya lebih lanjut peluang ini hanya dapat diambil oleh para akuntan yang mempunyai pengetahuan memadai tentang TI. Sebaliknya akuntan yang tidak mempunyai pengetahuan yang memadai tentang TI tentu akan tergerus, “katanya

Senada dengan itu, Dr. Ahmad Firman, S.E., M.Si., Wakil Ketua I Bidang Akademik STIE Nobel Indonesia yang turut hadir dalam kuliah praktisi tersebut mengatakan bahwa sekarang ini tanpa memiliki latar belakang akuntan sekalipun, siapa saja bisa mengelola keuangan dengan bantuan software akuntansi.

Jadi kalau mahasiswa akuntansi hanya menjadi lulusan yang biasa-biasa saja dalam artian tidak punya keterampilan dalam teknologi itu akan sangat disayangkan.

“Untuk mahasiswa Nobel jangan hanya jadi mahasiswa akuntansi yang menggunakan software akuntansi, tapi jadilah pencipta atau pembuat software, “himbau Dr. Ahmad Firman.

Sementara itu, Ketua Jurusan Akuntansi STIE Nobel Indonesia—Indrawan Azis, S.E., M.Ak., berharap kedepannya akan semakin banyak kuliah praktisi yang digelar dengan menghadirkan narasumber dari alumni kita sendiri, STIE Nobel Indonesia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *