Kenapa Kamu Kudu jadi Seorang Entrepreneur!

Memang kenapa harus jadi seorang entrepreneur? Apa seorang gajian atau employee itu buruk? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Namun, apapun pilihannya, menjadi entrepreneur atau menjadi employee, keduanya sama-sama bagus. 

Robert T. Kiyosaki dalam bukunya, “The Cashflow Quadrant”, menjelaskan ada 4 tipe orang yaitu employee, self-employed, business owner, dan investor. Kuadran pertama atau orang yang bekerja untuk uang, diisi oleh employee dan self-employed. Sedangkan kuadran kedua atau uang yang bekerja untuk orang, diisi oleh business owner dan investor. Dari kedua kuadran tersebut, Robert T. Kiyosaki mengatakan bahwa orang-orang yang berada di kuadran kedua lah yang berpeluang besar menjadi orang kaya (kaya dalam hal keuangan).

Nabi Muhammad saw., dalam haditsnya juga mengatakan, 9 dari 10 pintu rezeki berasal dari perdagangan (perdagangan disini bermakna wirausaha, berbisnis, berjualan, dan sebagainya). Itu artinya 90% pintu rezeki (keuangan) dikuasai oleh mereka. Dan pada kenyataannya memang demikian, hal tersebut sejalan dengan fakta yang terjadi di dunia.

Dari daftar 100 orang terkaya di dunia versi majalah Forbes, mereka semua adalah business owner dan investor, di antaranya ada Jeff Bezos, Bill Gates, Bernard Arnault, Mark Zuckerberg, Lakshmi Mittal, Carlos Slim, Warren Buffet, dll.

Hal yang sama pun juga berlaku di Indonesia, nama-nama yang selalu bertengger dalam daftar 100 orang terkaya di Indonesia adalah para pengusaha atau business owner, sebut saja R. Budi & Michael Hartono, Anthoni Salim, Chairul Tanjung, dll.

Menurut penelitian David C. McClelland dalam bukunya “The Achieving Society”, suatu negara dapat mencapai kemakmuran dan kesejahteraan jika minimal 2 % dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha. Jika diterapkan di Indonesia, hal itu berarti saat ini Indonesia membutuhkan paling tidak sekitar 6 juta dari 270 juta penduduknya untuk menjadi seorang pengusaha. 

Walaupun sebenarnya berdasarkan data yang dilansir dari rri.co.id per tahun 2019, jumlah pengusaha di Indonesia sudah mencapai 8 juta jiwa. Itu artinya sudah melampaui standar minimal 2 %. Namun, jumlah tersebut masih terbilang rendah jika dibanding negara tetangga, seperti Singapura yang sudah mencapai 7 %, Malaysia yang sudah mencapai 6 %, dan Thailand yang sudah mencapai 5 %.

Dengan mengetahui kondisi tersebut berdasarkan data-data yang sudah dipaparkan, semoga bisa mendorong teman-teman para generasi muda untuk lebih banyak lagi menjadi entrepreneur atau pengusaha. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Seperti apa bangsa Indonesia kedepannya, bergantung dari generasi mudanya saat ini.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa masa muda adalah masa untuk hura-hura. Bijaksananya kalimat tersebut diganti menjadi masa muda adalah masanya untuk berkarya. Berkarya dalam hal ini bermakna luas, dan salah satu cara untuk berkarya adalah dengan menjadi seorang entrepreneur.

Dengan menjadi entrepreneur, tentu bisa menjadi kesempatan besar untuk kita berkontribusi kepada bangsa Indonesia dalam bidang perekonomian.

Semakin banyak pengusaha, artinya semakin banyak lapangan pekerjaan yang tersedia. Dan pada akhirnya, semakin tinggi pula harapan kesejahteraan dan kemakmuran bagi penduduk Indonesia. 

Sumber:

Robert T.Kiyosaki and Sharon L.Lechter. 2014. The Cashflow Quadrant

Muhammad Assad. 2011. Notes From Qatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *