Jeli Melihat Peluang di Tengah Pandemi

MAKASSAR, NIDC—Pandemi tak boleh menjadi alasan para wirausaha terutama pengusaha muda jadi pesimis. Di tengah perekonomian yang mulai bangkit selalu ada harapan untuk berbenah. Pengusaha atau wirausaha mesti jeli memanfaatkan peluang.

Demikian diungkapkan Ketua Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Industri Kecil Menengah (IKM) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Ronald Walla, saat menjadi narasumber pada Kuliah Umum yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel Indonesia, Selasa, (21/6/2021).

Kegiatan yang mengusung tema “Menjadi Wirausaha Muda yang Tangguh dan Mandiri” ini diikuti kurang lebih 300 peserta, yakni dari STIE Nobel Indonesia sendiri, Universitas Bina Mandiri Gorontalo, STIMIK Handayani, Universitas Negeri Makassar, dan umum.

Menurut Ronald, jejaring juga menjadi sangat penting bagi wirausaha muda selama pandemi covid-19, banyak UMKM yang digawangi wirausaha muda mengalami kesulitan untuk sekadar bertahan. Banyak dari mereka belum memperoleh bantuan. Memanfaatkan jejaring antar wirausaha pun menjadi solusinya.

“Berdasarkan data survei terhadap wirausaha muda hampir 80 persen wirausaha muda melaporkan bahwa covid-19 memiliki dampak negatif terhadap bisnis mereka. Pengusaha muda tidak menyadari adanya dukungan yang tersedia dari berbagai sektor (seperti LSM/NGO/pemerintah maupun sektor swasta). Wirausaha muda memilih untuk tetap terhubung dalam jaringan wirausaha untuk saling membantu dan bertahan,” ucapnya.

Peluang apa yang bisa dimanfaatkan di tengah situasi seperti ini. Menurutnya, ada perilaku konsumen yang berubah di masa pandemi, yaitu meningkatnya konsumsi produk-produk kesehatan dan herbal.

“Sekarang ini ada pergeseran gaya hidup. Jika mengacu ke piramida Maslow, konsumen kini bergeser kebutuhannya dari “puncak piramida” yaitu aktualisasi diri dan esteem ke “dasar piramida” yaitu makanan, kesehatan, dan keamanan jiwa raga,” ucap Ronald.

Ronald juga menjelaskan bahwa posisi atau dunia kewirausahaan penting bagi Indonesia. Di antaranya karena menciptakan lapangan kerja baru sehingga bisa menyerap tenaga kerja, meningkatkan penerimaan pajak, mendorong inovasi dan kemandirian masyarakat, serta menjadi indikator keunggulan dan daya saing negara.

“Masalahnya adalah kurikulum pendidikan masih fokus pada keterampilan teknis. Metode belajar belum berbasis STEAM dan problem based learning. Dan, individu tidak dibiasakan berpikir kritis, analitis, dan memecahkan masalah. Ini yang masih jadi problem, “terang dia.

Olehnya, lanjut Ronald, karakter positif wirausahawan muda, memiliki motivasi yang kuat untuk mandiri dan belajar; menjaga integritas/ kepercayaan pihak lain; tidak mudah menyerah, ulet dan tekun; mudah beradaptasi dan membangun jaringan relasi yang luas; mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat; memiliki kemampuan mengambil keputusan secara cepat; serta mampu mengelola keuangan secara cermat dan efisien. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *